LAKI-LAKI dan PEREMPUAN


Bismillahirrahmaanirrahiem.
Tepatnya hari ahad, bulan Ramadhan yang ke-18 tahun 1434, pas sedang ceramah tujuh menit selang sholat Taraweh di suatu tempat, ada seorang ibu bertanya dengan terheran-heran. “Pak ustad, ada teman saya nanya, perbedaan paling mendasar antara laki-laki dan perempuan itu apa? Soalnya dia sering mendengar istilah – emansipasi – yang katanya hak perempuan harus sama dengan pria. Gimana tuh, pak ustad”, tanyanya.


Mmm.. Pertanyaan yang berat untuk konteks kultum, tapi saya tak langsung menjawab saat itu, karena saya tahu akan terjadi diskusi yang panjang. Makanya saya jawab setelah sholat taraweh saja.

Selesai taraweh, lalu ibu tadi menghampiri saya dan suaminya mengurus kedua anak lelakinya. Saya mulai pembicaraan.

“Jadi gini bu, mudahnya saja, pria itu asal mula dari tanah. Inget cerita nabi Adam A.S.? Ia manusia pertama dimuka bumi ini, dan Allah menerangkan dalam Quran surat al-Mu’minun ayat 12 bahwa ia diciptakan dari tanah. Dan istrinya, Hawa, ia diceritakan dicipta dari tulang rusuk adam (laki-laki). Silahkan buka an-Nisa ayat 1. Sudah paham, bu?”

Lalu dengan muka terheran, ibu itupun kembali bertanya, “Ia, kalau itu saya ingat, Adam dari tanah, dan Hawa dari tulang rusuk Adam. Lalu kaitannya dengan emansipasi tadi gimana, ustad?”

Dalam hati ku bicara, “waduuh, ni ibu kritis juga, like this lah, hehe…” Jarang jarang loh ibu-ibu bertanya seheran gitu, sampe memperpanjang pertanyaannya. Dan saya jawab, “Nah, kaitannya dengan emansipasi, tapi gak apa-apa panjang bu? Mungkin kita bicara bakalan lama nih, hehe”, tanyaku. “Gak apa-apa pak ustad, rumah saya deket inih, lagian saya kesini bareng suami”, jawabnya. Okelah kalo begitu.

“Emansipasi itu, intinya hak perempuan dan laki-laki ingin sama. Laki-laki cari kerja, perempuan pun harus cari kerja. Lelaki jadi ketua (pemimpin), perempuan pun ingin jadi ketua. Dan persamaan lainnya. Nah, masalahnya, para pencetus emansipasi ini, salah satunya orang dengan pola berpikir liberal atau bebas, hanya melihat yang enak-enak saja. Perempuan ga mau cari kerja kasar, seperti tukang bangunan. Juga ga kepikiran perempuan buat jadi tukang gali kubur. Ga adil kan?”

“Nah, sebenarnya Allah itu sudah sempurna menciptakan sesuatu. Dan selalu ada alasan dibalik penciptaannya, ga ada yang sia-sia. Kenapa pria diciptakan dari tanah, itu hikmahnya salah satunya bahwa tanah itu bisa tumbuh apa saja, tergantung tempat, cuaca, dan kebiasaan penduduk sekitar. Jadi pria itu tergantung pada orang lain (dalam hal ini perempuan).”

“Tapi perempuan, ia dari tulang rusuk pria yang memiliki sifat keras dan sulit untuk diluruskan, setiap tindakan atau perilaku yang menyimpang dari perempuan, bila dibiarkan maka akan merusak harkat dan mertabat perempuan, oleh karena itu perlu adanya kebijaksanaan dari kaum laki-laki (hal ini suami). Demikian pula harus ada kesadaran dari kaum perempuan bahwa dirinya adalah memang demikian, perasaannya sangat peka, sehingga salah dalam penerapan akan membuat luka yang tidak akan pernah terlupakan”.

“Jadi memang fitrah perempuan dan pria itu sudah beda dari asal. Hanya ke-isengan berpikir orang-orang liberal ini yang bilang bahwa hak mereka harus sama dengan pria. Buktinya jika diberi semua hak laki-laki pada perempuan, ibu mau jadi tukang bangunan, dan bapaknya jadi baby sister? Kayaknya nggak ya? Berarti ibu normal”.

“Orang liberal itu pengen semua yang mengekangnya itu tak ada. Padahal sebenarnya kekangan mereka itu bukan tanpa maksud. Kalau diibaratkan, perempuan itu bagaikan gelas, sedang pria bagaikan bawang merah. Gelas bila pecah sulit untuk dikembalikan seperti semula, sedang bawang merah bila busuk diluar, dan kalau dikupas maka akan kelihatan utuh”. Dan pada hakikatnya, golongan liberal ini memang hanya mencari yang enak-enak saja, kalau mereka sering bilang keadilan, mereka sendiri malah tak adil dalam bersikap.Memang aneh.”

“Itu masih dalam hal penciptaan saja. Kita belum sampe pada inti pembahasan. Masih mau lanjut?”, tanyaku lagi.
Ibu itu dengan nada semangat bilang, “Ayo”.

Saya tanya terlebih dahulu, “Nah, lalu sikap kita harus gimana? Apakah kepikiran untuk mengikuti paham tadi, bu?” Ibu itu pun sontak menjawab, “Ya enggak lah pak ustad, saya sudah sangat nyaman dengan posisi saya sebagai perempuan. Ga pernah kepikiran buat jadi laki-laki, lagian, emang bisa gitu? Hehe..”

“Eit, jangan salah bu. Banyak orang yang ingin merubah gendernya setelah ia beranjak dewasa dan mulai memaknai gender itu dengan sebuah kehidupan. Ada beberapa contoh orang yang melakukan transgender (perpindahan jenis kelamin), bukan alat dan hakikatnya. “

“Ibu tahu Dorce Gamalama? Dan yang paling baru itu Dena Rachman”, tanyaku.
“Ya, saya tahu mereka. Mereka memang bukan perempuan murni, hanya potokopian saja, hehe..” jawabnya.
“Terus gimana menurut ibu dengan kedua orang tadi? Merasa biasa saja atau emang jijik mendengarnya?, bisikku kencang.
“Yaa, karena sudah sering mendengar, jadi biasa saja”, jawabnya.
Lalu akupun jawab, “nah, ini nih sikap keliru. Liat yang kayak gitu, jangan dibiarin bu, minimal kita ngasih tahu ke tetangga dan orang-orang yang kita kenal, bahwa – waria – tak waras semua. Hehe…”
“Oh gitu ya pak ustad?”
Saya pun mengangguk, sambil meneruskan bertanya, “Sekarang sudah mengerti bu?
Ibu itu pun menjawab, “Ya pak ustad, Alhamdulillah paham. Silahkan lanjut”
“Syukurlah kalo begitu”, tambahku.

“Baik, ini sesi terakhir”
Nah, perbedaan lain yang harus kita sikapi itu, bahwa saya sebagai pria, dan ibu sebagai perempuan harus sadar dan paham benar letak perbedaan keduanya. Tidak hanya sekedar catatan kelahiran saja kita tertulis pria atau perempuan. Tapi dimulai dari penciptaan, karakter, hak dan kewajibannya, harus dimengerti dan dipahami pula”.

“Sekarang saya tanya, apa yang membedakan ibu dan bapak?”, tanyaku.
“Mmm.. Ya kalau saya pake kerudung, sedang suami saya tidak”, jawabnya.
“Emang si bapak gabisa gitu pake kerudung? Ini menurut saya ya bu, kalau ibu hanya berpendapat bahwa beda laki-laki dan perempuan itu hanya dari pisik luar saja, ibu salah besar. Memang hakikatnya, lelaki takkan pernah bisa melahirkan kecuali Allah mengizinkan. Karena rahim itu hanya dimiliki kaum Hawa”. Makanya kedua orang tadi, kalau ditanya masalah kehamilan, bakalan diem tuh!”
Dan dia merespon, “oh gitu yah ustad?”

“Jadi kita jangan hanya berpikir perbedaan itu yang Nampak saja, tetapi yang tertutup juga harus paham. Seperti karakter dan wataknya. Karena ada beberapa hal yang tak mungkin bisa disamakan. Seperti hak dan kewajibannya”.

“Kewajiban istri itu yah mendampingi suami dan menurutinya. Dan kewajiban suami itu ya mendidik istri untuk bisa lebih dekat ke Allah. Bila ada suami yang gagal “memuslimkan” istrinya, maka dobel tuh dosa suami”.

“Ga pernah ada cerita, perempuan yang membimbing pria dalam rumah tangga. Ga pernah ada cerita juga, perempuan diciptakan pertama dan pria dari tulang rusuknya. Namun, pengertian ini tak cukup dipahami dari segi kita diciptakan saja. Karena hampir semua orang menyetujui penciptaan saja. Nah, errornya pemikiran mereka itu dalam konteks hasil survey dan pengalaman saja, jadi lebih kepada pencarian yang diada-adakan”.

“Seperti tadi, perempuan jadi pemimpin, karena mereka beranggapan, perempuan pun bisa memimpin, bisa mengarahkan, bisa menentukan keputusan. Tergantung tipe dan karakter perempuan itu sendiri”.

“Mungkin itu saja bu, kurang lebihnya kita bahas kemudian hari. Karena waktu sudah malam juga”

Dan ibu itupun mengiyakan ucapan saya sambil membereskan mukena yang tengah dikenakannya. Sebelum kita berpisah, ibu itu akan menagih janji pertemuan itu kelak dirumahnya. Dan saya pun menyanggupinya. Insya Allah.

Waktu pun menunjukkan pukul 22:32, dan pembicaraan kita dicukupkan sekian.

Kesimpulannya, pada dasarnya pria dan perempuan itu memang berbeda. Dimulai dari penciptaan, ciri pisik, dan karakter asal. Namun karena ilmu yang kian dicari dan ditemui, ditambah banyak fenomena yang diluar kebiasaan inilah yang menyebabkan banyaknya pemahaman baru mengenai persamaan hak dan kewajiban diantara keduanya.
Mungkin banyak yang menyetujui bahwa asal lelaki dicipta dari tanah, dan perempuan dari tulang rusuk pria. Namun itu hanyalah awal penciptaan. Setelah Adam dan Hawa tercipta, maka Allah tidak kembali menciptakan “manusia” baru dari tanah. Tapi melalui proses biologis nan ilmiah. Dan itu sudah diceritakan dalam Quran surat al-Insan ayat 2 yang notabene sebelum ilmu pengetahuan berkembang saat itu.
Inilah kekuasaan Allah. Sang maha Perencana. Sang maha Kuasa. Dan maha segala-galanya. Tinggal keimanan kita yang memutuskan untuk mengikuti atau malah ingin membongkar validitas Quran yang sudah teruji kesempurnaannya.
So, perempuan dan pria itu mungkin bisa disamakan hak dan kewajibannya, tapi dalam hal tertentu yang bersifat prestasi, dan sesuatu lain yang bisa diusahakan secara naluriah. Bila diusahakan secara fikriah, seperti kepemimpinan, imam sholat, dan lainnya, tak bisa disamakan. Itu sudah diberikan porsi masing-masing.
Wallohu al’am.